Laptop dicolok, lampunya nyala, tapi alamat yang didapat 169.254 sekian — atau nggak dapat sama sekali.
Untuk tahu di mana macetnya, perlu tahu dulu bahwa mendapat alamat itu bukan satu langkah, melainkan empat.
Empat langkah itu
Discover. Perangkat baru belum punya alamat apa pun, jadi dia nggak bisa bicara ke siapa-siapa secara langsung. Dia berteriak ke seluruh segmen: "ada DHCP server nggak di sini?"
Offer. Server yang mendengar menjawab dengan tawaran: alamat sekian, netmask sekian, gateway sekian.
Request. Perangkat menjawab bahwa dia menerima tawaran itu — dan jawaban ini juga disiarkan ke semua, bukan dikirim khusus ke server yang menawarkan. Sengaja: supaya server lain yang ikut menawarkan tahu tawarannya nggak diambil, dan alamat yang sempat dicadangkan bisa dilepas lagi.
Acknowledge. Server memastikan, dan alamat itu resmi dipakai selama jangka waktu tertentu.
Empat huruf awalnya jadi DORA, dan itu satu-satunya bagian yang perlu dihafal.
Akibat penting: DHCP tidak melewati router
Karena Discover dan Request disiarkan ke seluruh segmen, dan router memang bertugas menahan siaran supaya nggak menyebar ke mana-mana, maka permintaan DHCP berhenti di batas segmen.
Ini penjelasan dari gejala yang sangat sering muncul: VLAN baru dibuat, perangkat dicolok, dan nggak ada yang dapat alamat — padahal DHCP server-nya jelas hidup, cuma berada di segmen lain.
Solusinya salah satu dari dua: taruh DHCP server di segmen itu sendiri, atau pasang DHCP relay yang meneruskan permintaannya. Generator DHCP Server MikroTik nyusun konfigurasinya beserta pool dan option-nya.
Di mana biasanya macet
| Gejala | Biasanya |
|---|---|
| Dapat 169.254.x.x | Discover nggak pernah dijawab — server mati, atau siarannya nggak sampai karena VLAN atau relay |
| Dapat alamat, tapi dari jaringan yang salah | ada DHCP server lain yang nggak seharusnya — biasanya router kedua yang dicolok terbalik, WAN-nya ke LAN |
| Dapat alamat tapi internet nggak jalan | bukan DHCP-nya. Gateway atau DNS di option-nya salah, atau NAT dan route yang bermasalah |
| Alamat bentrok dengan perangkat lain | pool DHCP menindih alamat yang dipasang statis |
| Dapat alamat, tapi lama sekali | STP menahan port beberapa puluh detik tiap kali link naik |
Baris kedua patut diwaspadai karena merusak diam-diam: perangkat yang kebetulan mendapat tawaran dari server nakal akan kehilangan akses, sementara yang lain baik-baik saja. Cara menemukan perangkat yang nggak dikenal di jaringan ada di perangkat asing di jaringan WiFi.
Baris terakhir juga menarik karena sering dikira DHCP-nya lambat. Yang lambat sebenarnya switch, dan alasannya dibahas di loop jaringan dan batas kemampuan STP.
Yang dikirim bukan cuma alamat
Selain alamat dan netmask, server mengirim gateway, DNS, dan sejumlah option lain. Salah satu saja keliru dan gejalanya jadi "dapat IP tapi nggak ada internet" — yang membuat orang mencurigai DHCP padahal DHCP-nya sudah bekerja sempurna.
Urutan memeriksanya ada di DHCP MikroTik: dapat IP tapi tidak ada internet.
Soal lama sewa alamat
Jangka waktu sewa menentukan berapa lama alamat dipegang sebelum harus diperbarui.
Terlalu panjang di jaringan yang orangnya datang-pergi — hotspot, kafe, kantor tamu — bikin pool cepat habis oleh perangkat yang sudah lama pulang. Terlalu pendek bikin lalu lintas perpanjangan jadi ramai tanpa perlu.
Untuk jaringan kantor yang perangkatnya menetap, hitungan hari wajar. Untuk hotspot, hitungan jam.
Dan pastikan pool-nya nggak menindih alamat yang dipasang statis. Batas amannya paling gampang dilihat di Kalkulator Subnet — sisakan blok di awal atau akhir untuk perangkat tetap, dan mulai pool sesudahnya.