Switch-nya gigabit, kartu jaringannya gigabit, kabelnya Cat6 yang dibeli mahal. Tapi status link tetap 100 Mbps.
Penyebab paling sering bukan salah beli. Satu kawat yang nggak duduk sempurna di konektor.
Gigabit memakai keempat pasang, Fast Ethernet cuma dua
Ini akar seluruh persoalannya.
Fast Ethernet 100 Mbps cuma memakai dua pasang kawat — pin 1, 2, 3, dan 6. Empat kawat sisanya nganggur, dan kabel tetap berfungsi penuh walau keempatnya putus.
Gigabit memakai keempat pasang, kedelapan kawat.
Akibatnya: satu kawat putus di pasangan 4 dan 5, atau 7 dan 8, membuat gigabit gagal dinegosiasikan. Link tetap naik, lampu tetap nyala, jaringan tetap jalan — tapi turun ke 100 Mbps.
Itu sebabnya kabel yang salah krimping bisa bertahun-tahun dipakai tanpa ada yang curiga. Dia nggak pernah kelihatan rusak. Dia cuma nggak pernah cepat.
Urutan memeriksanya
1. Krimping ulang kedua ujungnya. Ini yang paling sering menyelesaikan. Kawat yang kelihatan masuk belum tentu tertusuk pisau konektornya. Kalau ada tester kabel yang menampilkan kedelapan pin satu per satu, pakai itu — tester murah yang cuma menyalakan lampu berurutan sering meloloskan sambungan yang setengah.
2. Curigai kabel CCA. Kabel murah sering berisi aluminium berlapis tembaga, bukan tembaga penuh. Dia lebih rapuh, hambatannya lebih besar, dan pada jarak menengah gagal menegosiasikan gigabit walau kedelapan kawatnya utuh. Kabel yang terlalu murah untuk panjangnya hampir pasti CCA.
3. Ukur panjangnya. Batas Ethernet 100 meter, termasuk kabel pendek di kedua ujung. Lewat dari itu, gigabit yang pertama gugur.
4. Periksa apakah ada perangkat di tengah jalur. PoE injector murah, media converter, atau colokan dinding lama sering cuma melewatkan dua pasang. Satu saja perangkat semacam itu di tengah jalur cukup mengunci seluruh link ke 100 Mbps. Ini penyebab yang paling sering luput karena orang cuma memeriksa kabelnya.
5. Baca spesifikasi switch-nya lagi. Banyak switch yang dijual sebagai gigabit ternyata cuma gigabit di satu atau dua port uplink, sisanya Fast Ethernet.
6. Kembalikan auto-negotiation ke otomatis. Kalau satu sisi dipaksa manual dan sisi lain otomatis, hasilnya duplex mismatch. Gejalanya lebih buruk daripada sekadar 100 Mbps: link naik, tetapi banyak error dan kecepatan nyata jatuh jauh di bawah 100. Kalau menu switch Anda menampilkan penghitung error per port, angka yang terus naik di situ adalah tandanya.
Link 1 Gbps belum berarti transfer 1 Gbps
Setelah link-nya benar naik ke gigabit, jangan kaget kalau salin berkas tetap nggak sampai 1 Gbps. Angka link adalah kecepatan kabelnya, bukan kecepatan data yang benar-benar lewat.
Yang membatasi sesudah itu banyak: kecepatan disk, protokol yang dipakai, dan pada jalur jarak jauh yang paling menentukan adalah latency berbanding ukuran jendela TCP. Duduk perkaranya ada di jalur 100 Mbps kok terasa 8 Mbps, dan angkanya bisa dihitung di Kalkulator Throughput TCP.
Kalau yang lambat ternyata semua hal, bukan cuma satu jalur, mulai dari transfer file lambat padahal bandwidth besar.