Lompat ke konten utama

Wireless Bridge Point to Point MikroTik: Setelan yang Menentukan Stabil atau Tidak

Link naik, sinyal -60 dBm, kelihatan sehat. Tapi throughput seperempatnya dan tiap sore putus. Sinyal memang bukan ukuran yang menentukan.

Link point to point sudah naik. Sinyal -60 dBm, angka yang kedengarannya bagus. Tapi throughput cuma seperempat dari yang dijanjikan perangkatnya, dan tiap sore putus-putus.

Sinyal bagus memang bukan ukuran yang menentukan. Ada tiga angka lain yang lebih menentukan, dan dua di antaranya jarang dilihat orang.

Yang dilihat bukan sinyal, tapi selisihnya dengan noise

Sinyal -60 dBm di tempat sunyi itu bagus. Sinyal -60 dBm di tempat yang noise floor-nya -65 dBm itu nyaris nggak berguna.

Yang menentukan selisih keduanya. Selisih 30 dB atau lebih itu sehat; di bawah 20 dB mulai payah; di bawah 15 dB jangan berharap banyak.

Angka kedua yang perlu dilihat: CCQ. Dia menggambarkan berapa banyak pengiriman yang berhasil tanpa harus diulang. CCQ di bawah 70 persen berarti sebagian besar tenaga link Anda habis untuk mengirim ulang paket yang sama.

Link dengan sinyal cantik tapi CCQ jelek adalah gejala paling khas dari jalur yang terhalang sebagian — bukan terhalang total, cuma tersenggol.

Zona Fresnel, dan kenapa "kelihatan" belum cukup

Dua antena yang saling terlihat mata belum tentu punya jalur bersih. Gelombang radio butuh ruang berbentuk lonjong di sepanjang jalur, dan ujung pohon yang menyenggol tepi lonjong itu sudah cukup menurunkan mutu link.

Ini juga jawaban dari "kenapa putus kalau hujan". Di 5 GHz, air hujan sendiri hampir nggak menyerap sinyal — yang menyerap daun yang basah. Kalau link Anda putus saat hujan, hampir pasti jalurnya memang sudah mepet menyenggol pepohonan sejak awal, dan hujan cuma menambah beratnya.

Hitungannya, termasuk tinggi antena yang dibutuhkan, ada di Kalkulator Tinggi Tower dan Zona Fresnel, dan duduk perkaranya di tinggi tower dan zona Fresnel: LOS bersih belum cukup.

Mode yang salah bikin cuma routernya yang bisa diping

Untuk link yang harus meneruskan seluruh jaringan di belakangnya, sisi client wajib memakai station bridge, bukan station biasa.

Station biasa nggak meneruskan MAC address perangkat di belakangnya. Gejalanya sangat khas dan sering bikin bingung: router di seberang bisa diping, tetapi komputer di belakangnya nggak bisa. Kelihatan seperti masalah routing, padahal masalah mode wireless.

Station bridge cuma jalan antar perangkat MikroTik. Kalau lawannya merek lain, pakai mode lain atau bungkus dengan tunnel.

nv2 untuk jarak jauh, bukan 802.11

Protokol 802.11 biasa menyuruh tiap perangkat mendengarkan dulu sebelum bicara. Di jarak jauh, aturan itu jadi beban: waktu tunggunya panjang, dan pada point to multipoint dua client bisa sama-sama merasa udara sepi lalu bicara bersamaan tanpa saling mendengar.

nv2 memakai pembagian waktu — tiap perangkat dapat jatah bicara yang diatur. Untuk PtP jarak jauh, apalagi PtMP, hasilnya jauh lebih stabil.

Syaratnya kedua sisi MikroTik. Dan jangan menyalakan nv2 di jaringan yang bercampur dengan WiFi biasa — dia nggak tahu sopan santun 802.11, jadi malah mengganggu.

Distance yang salah membuang throughput

Perangkat wireless menunggu balasan dalam jangka waktu tertentu. Kalau jaraknya diset jauh lebih besar daripada kenyataan, dia menunggu terlalu lama tiap kali; kalau terlalu kecil, balasan yang sah dianggap gagal.

Isi jarak yang sebenarnya, atau pakai setelan dinamis. Ini setelan yang paling sering ditinggalkan default padahal dampaknya besar.

Sebelum memasang, kunci angkanya dulu

Naikkan daya pancar seperlunya saja — daya berlebih di jarak dekat justru bikin penerima jenuh dan CCQ jatuh. Arahkan antena pada daya rendah supaya perbedaan tiap gerakan terasa, baru naikkan setelah lurus.

Dan tentukan target throughput yang masuk akal sejak awal. Angka di dus perangkat adalah kecepatan link, bukan kecepatan data yang benar-benar lewat. Selisihnya besar, dan alasannya dijelaskan di jalur 100 Mbps kok terasa 8 Mbps — hitungannya bisa dicoba di Kalkulator Throughput TCP.

Semua artikel