Perangkat udah dilihat-lihat, harga OLT udah dicatat, tinggal beli. Hitungannya kelihatan gampang: seratus pelanggan kali seratus lima puluh ribu, dikurangi biaya uplink.
Hitungan itu hampir selalu terlalu optimis, dan bukan karena angkanya salah. Karena ada tiga hal yang nggak masuk hitungan.
Yang pertama: modal nggak berhenti di awal
Modal awal gampang diinget — OLT atau router, switch, tower, kabel backbone, ODP, perizinan.
Yang kelupaan: tiap pelanggan baru butuh modal sendiri. ONU atau router pelanggan, kabel drop, konektor, dan jasa narik. Angkanya nggak besar per orang, tapi dia keluar tiap kali ada pelanggan baru — dan justru di bulan-bulan pertumbuhan tercepat, saat kas paling tipis.
Ini yang bikin usaha yang di atas kertas untung malah kehabisan uang tunai. Pertumbuhan cepat butuh kas lebih banyak, bukan lebih sedikit.
Yang kedua: pelanggan nggak datang sekaligus
Hampir semua hitungan balik modal dibikin dengan asumsi jumlah pelanggan penuh sejak bulan pertama.
Kenyataannya pertumbuhan lima sampai sepuluh pelanggan per bulan itu wajar buat satu kampung, dan bulan-bulan awal jauh lebih sepi. Kalau target seratus pelanggan dan tumbuh delapan per bulan, Anda bakal jalan lebih dari setahun sebelum sampai — dan selama itu biaya bulanan Anda tetap jalan penuh.
Biaya yang jalan penuh sejak hari pertama: uplink, listrik, sewa tiang atau lahan tower, dan gaji teknisi kalau ada. Uplink nggak bisa dibeli setengah.
Yang ketiga: nggak semua tagihan tertagih
Tunggakan itu bagian dari usaha ini, bukan pengecualian. Lima sampai sepuluh persen pelanggan telat atau berhenti tanpa bilang adalah angka yang wajar dipakai buat berjaga.
Kalau hitungan Anda cuma benar saat semua orang bayar tepat waktu, itu bukan hitungan — itu harapan.
Susun angkanya seperti ini
Empat kelompok, dan pisahkan betul-betul:
| Kelompok | Isinya | Sifatnya |
|---|---|---|
| Modal awal | OLT, router, tower, backbone, perizinan | sekali |
| Modal per pelanggan | ONU, kabel drop, jasa tarik | tiap pelanggan baru |
| Biaya bulanan tetap | uplink, listrik, sewa, gaji | tiap bulan, berapa pun pelanggannya |
| Biaya bulanan per pelanggan | jarang ada, tapi tulis kalau ada | ikut jumlah pelanggan |
Balik modal terjadi saat laba kumulatif nutup seluruh modal yang udah keluar — bukan saat pendapatan bulanan nutup biaya bulanan. Dua hal yang beda, dan yang kedua datang jauh lebih dulu.
Kalkulator Modal dan Balik Modal RT/RW Net ngitung bulan ke berapa Anda balik modal dengan pertumbuhan pelanggan yang pelan dan tunggakan ikut dihitung — bukan dengan asumsi semuanya lancar.
Uplink: jangan beli sekaligus, tapi jangan telat juga
Uplink biasanya biaya bulanan terbesar. Membelinya terlalu besar di awal bikin kas habis buat kapasitas yang nganggur; kekecilan bikin pelanggan kabur pas jam sibuk.
Yang dipakai bukan penjumlahan paket. Seratus pelanggan paket 10 Mbps bukan berarti butuh 1.000 Mbps — nggak semua orang narik bersamaan. Yang menentukan rasio kontensi, dan itu keputusan sadar: makin rapat rasionya makin murah, tapi makin cepat terasa lambat pas malam.
Kalkulator Kapasitas Uplink dan Rasio Kontensi ngasih angkanya, dan Cara menghitung kebutuhan bandwidth RT/RW Net ngebahas dasar hitungannya.
Yang benar-benar mematikan usaha ini
Bukan OLT yang rusak, dan bukan tetangga yang jual lebih murah.
Yang mematikan: penagihan yang berantakan. Pelanggan yang lupa bayar karena nggak pernah ditagih, catatan yang tercecer di WhatsApp, dan pemilik yang nggak tau bulan ini siapa aja yang belum bayar.
Selesaikan itu sejak pelanggan masih dua puluh, saat masih terasa nggak perlu. Di angka seratus, memperbaikinya jauh lebih mahal daripada memulainya rapi.
Bacaan lanjutan: Memilih paket internet kantor buat sisi pembeli, dan GPON atau EPON untuk RT/RW Net kecil kalau perangkatnya belum diputuskan.