Kebanyakan kantor bayar kecepatan yang nggak kepakai, sambil tetap ngeluh internetnya lambat.
Dua hal itu bisa bener bareng, dan itu justru petunjuknya.
Hitungan kasar per orang
| Jenis kerjaan | Per orang |
|---|---|
| Email, dokumen, browsing | 1 sampai 2 Mbps |
| Ditambah meeting video | 4 sampai 6 Mbps |
| Desain, upload file besar | 10 Mbps ke atas |
| Streaming atau editing video | 25 Mbps ke atas |
Kantor 20 orang yang kerjanya administrasi biasa plus sesekali meeting online butuh sekitar 40 sampai 60 Mbps. Bukan 300.
Tapi angka itu cuma titik awal.
Yang lebih sering jadi masalah: upload
Ini yang paling sering kelewat waktu milih paket.
Paket rumahan biasanya asimetris. 100 Mbps download, tapi cuma 10 Mbps upload. Buat nonton YouTube itu nggak masalah. Buat kantor, itu masalah besar.
Meeting video ngirim dua arah. Sepuluh orang meeting bareng bisa ngabisin upload-nya, dan begitu upload penuh, download-nya ikut kerasa lambat karena tanda terima TCP-nya nggak bisa keluar.
Jadi kalau kantor sering meeting online, cari paket yang upload-nya minimal separuh download. Atau kalau ada, yang simetris.
Kenapa udah 300 Mbps tapi tetap lambat
Kalau nambah bandwidth nggak ngefek, berarti masalahnya bukan bandwidth. Tiga tersangka:
Pembagian yang nggak adil. Satu orang download file gede bisa bikin sembilan orang lain kerasa lambat, walaupun jalurnya sebenernya masih sisa. Yang benerin itu queue, bukan paket yang lebih gede. Lihat Simple Queue atau Queue Tree.
Latensi ke server tujuan. Kalau aplikasi kerjanya di server luar negeri, yang kerasa itu jarak, bukan kecepatan. Nambah Mbps nggak mempercepat perjalanan paket. Lihat Transfer file lambat padahal bandwidth besar.
Wifi-nya yang jadi leher botol. Jalur 300 Mbps nggak ada gunanya kalau AP-nya cuma satu buat tiga lantai. Cek dulu berapa yang beneran nyampe di meja pakai kabel, bandingin sama yang lewat wifi.
Cara ngecek yang jujur
Jangan andelin speedtest sekali dua kali. Lihat pemakaian sepanjang hari:
/interface monitor-traffic ether1-wanAtau aktifin Graphing di Tools biar kelihatan grafik harian dan mingguannya.
Yang dicari itu puncak di jam tersibuk. Kalau puncaknya cuma 30% dari kapasitas, Anda bayar yang nggak kepakai. Kalau nyentuh 90% dan mentok datar, ya emang perlu nambah.
Soal dedicated dan SLA
Paket bisnis harganya bisa tiga sampai lima kali lipat paket rumahan dengan angka Mbps yang sama. Yang dibayar itu bukan kecepatannya, tapi:
- Rasio kontensi yang lebih kecil, jadi kecepatannya lebih konsisten di jam sibuk
- SLA, ada jaminan waktu perbaikan
- IP publik statis
- Dukungan teknis yang bisa dihubungi
Buat kantor yang usahanya berhenti kalau internet mati, itu sepadan. Buat kantor yang cuma butuh email, nggak.
Satu hal yang sering jadi penentu: IP publik statis. Kalau perlu diakses dari luar, paket rumahan yang kena CGNAT bikin itu mustahil, berapa pun Mbps-nya. Lihat Remote MikroTik tidak bisa dari luar.