Lompat ke konten utama

VLAN per Pelanggan di OLT Diteruskan ke MikroTik: 1:1 atau N:1?

Satu VLAN per pelanggan kedengarannya rapi, sampai Anda punya 200 pelanggan dan MikroTik-nya harus punya 200 interface.

Waktu ngerancang FTTH, cepat atau lambat ketemu pertanyaan ini: tiap pelanggan dikasih VLAN sendiri, atau semuanya digabung dalam satu VLAN layanan?

Dua-duanya dipakai orang. Bedanya baru kerasa waktu pelanggan Anda nambah.

Model 1:1 — satu VLAN satu pelanggan

Tiap ONU dapat C-VLAN sendiri. Pelanggan 001 dapat VLAN 101, pelanggan 002 dapat VLAN 102, dan seterusnya.

Enaknya jelas: pelanggan terisolasi total satu sama lain di lapisan 2. Mau kasih bandwidth beda per pelanggan gampang, tinggal atur per interface. Mau lacak traffic siapa juga gampang.

Nggak enaknya baru muncul di MikroTik.

Tiap VLAN butuh satu interface. 200 pelanggan artinya 200 interface VLAN, 200 entri di daftar, dan tiap interface itu ada ongkos CPU-nya sendiri walaupun kecil. Di RB4011 masih oke. Di hEX atau RB750 yang sering dipakai RT/RW Net, ini mulai nyekik jauh sebelum 200.

Belum lagi urusan manusianya. Nambah pelanggan berarti nyentuh konfigurasi OLT dan konfigurasi MikroTik. Dua tempat, tiap kali. Lama-lama ada yang kelewat.

Model N:1 — semua pelanggan satu VLAN layanan

Semua ONU keluar dalam satu VLAN yang sama, misalnya VLAN 100. Pemisahan antar pelanggan nggak dilakukan pakai VLAN, tapi pakai PPPoE.

Di MikroTik cukup satu interface:

/interface vlan
add name=vlan-pppoe vlan-id=100 interface=ether1-olt

/interface pppoe-server server
add interface=vlan-pppoe service-name=rtrwnet disabled=no \
    default-profile=paket-10mbps one-session-per-host=yes

Nambah pelanggan cukup nambah secret:

/ppp secret
add name=budi001 password=xxxx profile=paket-10mbps service=pppoe

Konfigurasi MikroTik nggak berubah sama sekali mau pelanggannya 20 atau 500. Ini alasan utama kenapa N:1 lebih cocok buat jaringan kecil yang tumbuh.

Tapi isolasinya gimana?

Ini keberatan yang paling sering, dan sah.

Di N:1, semua pelanggan ada di satu domain broadcast. Tanpa pengaman, mereka bisa lihat satu sama lain.

Dua hal yang nutup itu, dan dua-duanya wajib:

Di sisi OLT, nyalain isolasi antar-ONU. Namanya beda-beda tiap merek — port-isolate, isolation enable, atau di service-port. Fungsinya sama: paket dari satu ONU nggak diterusin ke ONU lain, cuma ke uplink.

Di sisi MikroTik, PPPoE-nya udah misahin. Tiap session PPPoE itu tunnel sendiri. Pelanggan A nggak bisa nyapa pelanggan B lewat lapisan 2 karena mereka nggak satu segmen IP.

Dengan dua ini, isolasi N:1 secara praktis setara 1:1 buat kebutuhan RT/RW Net.

Kapan 1:1 tetap yang benar

Ada kasusnya, dan jangan dipaksa N:1 kalau ketemu:

  • Pelanggan korporat yang minta IP publik statis dan nggak mau lewat PPPoE
  • Layanan yang harus lewat NNI ke operator lain, di mana VLAN-nya udah ditentuin pihak sana
  • Pelanggan yang butuh L2 transparan antar dua lokasi

Buat kasus begini, campur aja. VLAN 100 buat mayoritas pelanggan PPPoE, dan VLAN sendiri-sendiri buat segelintir pelanggan khusus. Nggak ada aturan yang bilang harus seragam.

Soal QinQ

Kalau ada yang nyaranin QinQ (VLAN di dalam VLAN), tanya dulu buat apa.

QinQ berguna kalau Anda nyalurin traffic lewat jaringan pihak lain, atau punya beberapa OLT yang VLAN pelanggannya tabrakan. Buat satu OLT dengan satu MikroTik di belakangnya, QinQ cuma nambah lapisan yang bikin susah dilacak waktu rusak.

MikroTik bisa QinQ — tinggal bikin VLAN di atas VLAN. Tapi "bisa" dan "perlu" itu dua hal beda.

Saran

Di bawah 300 pelanggan dengan satu OLT: N:1 plus PPPoE. Lebih sedikit yang bisa salah, dan nambah pelanggan cuma nyentuh satu tempat.

Bikin konfigurasi PPPoE server-nya di Generator PPPoE Server MikroTik, dan rencanain penomoran VLAN-nya dulu pakai Perencana VLAN biar nggak tabrakan waktu OLT kedua nyusul.

Baca juga

Semua artikel