Pertanyaan yang paling sering muncul waktu mau nambah ODP: "ini masih kuat nggak kalau pakai 1:16?"
Jawabannya bisa dihitung di atas kertas sebelum satu meter kabel pun dibentang. Yang dibutuhkan cuma satu angka jatah dan satu daftar rugi.
Jatah Anda 28 dB
OLT GPON kelas B+ — yang paling umum dipakai — punya budget optik sekitar 28 dB. Itu selisih antara kekuatan pancar OLT sama batas terlemah yang masih sanggup dibaca ONU.
Kelas C+ kasih 32 dB. Lebih mahal, dan baru masuk akal kalau jalurnya emang panjang atau split-nya besar.
Angka 28 itu jatah total. Semua yang ada di jalur ngambil bagiannya masing-masing dari situ.
Yang makan jatah
| Komponen | Rugi |
|---|---|
| Splitter 1:2 | 3,5 dB |
| Splitter 1:4 | 7,2 dB |
| Splitter 1:8 | 10,5 dB |
| Splitter 1:16 | 13,7 dB |
| Splitter 1:32 | 17,0 dB |
| Splitter 1:64 | 20,5 dB |
| Serat per km (1310 nm) | 0,35 dB |
| Serat per km (1490 nm) | 0,25 dB |
| Konektor (tiap sambungan colok) | 0,3–0,5 dB |
| Splicing fusion | 0,05–0,1 dB |
| Splicing mekanik | 0,2–0,5 dB |
Perhatiin lompatan splitter-nya. Dari 1:8 ke 1:16 nambah cuma 3,2 dB. Dari 1:32 ke 1:64 nambah 3,5 dB. Tiap kali jumlah port dobel, ruginya nambah sekitar 3,5 dB — itu hukum fisika, bukan kualitas barang.
Contoh hitungan
Jalur biasa RT/RW Net: OLT → 4 km feeder → ODC pakai 1:4 → 800 m distribusi → ODP pakai 1:8 → 80 m dropcore ke rumah.
Angka serat di bawah pakai 0,35 dB/km, bukan 0,25. Itu angka 1310 nm, arah naik — arah yang lebih rugi. Sengaja: kalau jalurnya aman di angka yang lebih jelek, dia aman dua-duanya. Kalau Anda menghitung arah turun saja (1490 nm, 0,25 dB/km), hasilnya lebih kecil sekitar setengah dB pada jarak segini.
Serat 4,88 km x 0,35 = 1,71 dB
Splitter 1:4 = 7,20 dB
Splitter 1:8 = 10,50 dB
Konektor 6 x 0,4 = 2,40 dB
Splicing fusion 8 x 0,1 = 0,80 dB
---------
Total rugi = 22,61 dBJatah 28 dB dikurangi 22,61 dB, sisa 5,39 dB. Aman.
Kalau ODP-nya diganti 1:16, ruginya jadi 25,81 dB dan sisa margin cuma 2,19 dB. Masih "jalan" di hari cerah. Tapi satu konektor kotor aja udah makan setengahnya, dan hujan pertama Anda bakal dapat telepon.
Sisakan margin 3 dB, jangan ditawar
Margin itu bukan pemborosan. Itu jatah buat hal-hal yang pasti terjadi:
- Konektor yang lama-lama kotor
- Sambungan tambahan waktu kabel kena keruk terus disambung ulang
- Serat yang menua
- Dropcore yang ditarik ulang lebih panjang dari rencana
Jalur yang dirancang pas 28 dB itu jalur yang bakal jadi masalah dalam setahun. Rancang di 25 dB, sisakan 3 dB, dan Anda nggak perlu ke lapangan tiap ada gerimis.
Kenapa 1:64 jarang masuk akal di B+
Splitter 1:64 sendirian udah makan 20,5 dB dari 28 dB. Sisa 7,5 dB buat serat, konektor, sambungan, dan margin.
Coba dibagi: 6 konektor (2,4 dB) sama 8 sambungan (0,8 dB) udah ngambil 3,2 dB. Margin 3 dB diambil juga, sisa 1,3 dB buat seratnya. Di 0,25 dB/km itu cuma sekitar 5 km, dan itu sudah termasuk feeder, distribusi, sama dropcore.
Jadi 1:64 di B+ bukan nggak mungkin — dia cuma muat kalau jalurnya pendek dan sambungannya sedikit. Begitu jaraknya belasan kilometer, marginnya habis.
Kalau butuh 64 port, dua jalan yang wajar: pakai OLT kelas C+, atau pecah jadi dua kali 1:32 di titik yang berbeda.
Split bertingkat vs split sekali
Dua tingkat (1:4 lalu 1:8) totalnya 17,7 dB. Sekali 1:32 totalnya 17,0 dB. Nyaris sama.
Jadi milihnya bukan soal rugi, tapi soal bentuk jaringan. Split bertingkat lebih hemat kabel feeder karena satu serat bisa dipecah di beberapa lokasi. Split sekali lebih gampang dilacak waktu rusak, karena semua pelanggan nyantol di satu titik.
Buat RT/RW Net yang pelanggannya nyebar di beberapa gang, bertingkat hampir selalu lebih murah.
Hitung punya Anda
Kalkulator Link Budget Fiber & Split Ratio ngitung ini otomatis: masukin panjang serat, splitter yang dipakai, jumlah konektor sama sambungan, langsung keluar total rugi, sisa margin, sama perkiraan Rx di ONU.
Ada peringatannya juga kalau margin Anda di bawah 3 dB.