Pelanggan beli voucher hotspot hari Senin, dipakai hari Kamis, ternyata udah nggak bisa. Padahal tulisannya tiga puluh hari.
Di sisi lain, daftar user di router isinya ribuan, dan sebagian masih bisa login walau vouchernya dijual setahun lalu.
Dua-duanya berasal dari satu hal yang sama: dua batas waktu yang berbeda, dan sering tertukar.
Uptime dan validity itu bukan hal yang sama
- Limit uptime — total waktu pemakaian. Voucher 3 jam habis setelah dipakai 3 jam, mau dipakai hari ini atau bulan depan.
- Validity atau masa berlaku — hitungan kalender, jalan terus walau vouchernya nggak dipakai.
Voucher yang dijual sebagai "3 jam" tapi diisi validity 1 hari bakal mati tengah malam meski baru dipakai lima menit. Itu keluhan nomor satu penjual voucher, dan penyebabnya selalu setelan ini.
Tentukan dulu apa yang sebenarnya Anda jual:
| Yang dijual | Yang dipakai |
|---|---|
| "3 jam pemakaian, bebas kapan saja" | limit uptime saja |
| "1 hari penuh sejak login pertama" | validity yang mulai dihitung saat login pertama |
| "Berlaku sampai akhir bulan" | validity dengan tanggal tetap |
Yang paling sering bikin ribut: menjual dengan janji pertama, tapi menyetel yang kedua.
Shared-users: satu voucher berapa perangkat
Bawaannya satu. Artinya begitu pelanggan pindah dari HP ke laptop, yang satunya kedorong keluar.
Buat voucher keluarga atau warung, shared-users dua sampai tiga masuk akal. Buat voucher murah per jam, biarkan satu — kalau tidak, satu voucher dipakai ramai-ramai dan pendapatan Anda turun tanpa Anda sadari.
Rate limit ditaruh di profil, bukan di user
Godaan awal: nyetel kecepatan per voucher supaya "fleksibel".
Jangan. Taruh di user profile, lalu voucher tinggal menunjuk profil mana. Waktu suatu hari Anda ingin menaikkan kecepatan paket 10 ribu dari 2 Mbps jadi 3 Mbps, yang diubah satu profil — bukan lima ratus voucher satu per satu.
Kebocoran yang paling sering: voucher tidak pernah dihapus
Voucher yang habis masa berlakunya tidak hilang sendiri. Dia tetap ada di daftar user, ikut membuat daftar berat dibuka, dan yang lebih penting: kalau setelan validity-nya ternyata keliru, dia masih bisa dipakai login.
Dua kebiasaan yang menutup ini:
- Beri prefix pada nama voucher per batch — misalnya
a08-untuk batch Agustus. Menghapus satu batch jadi pekerjaan satu perintah, bukan menyisir ribuan baris. - Jadwalkan pembersihan dengan scheduler, jangan mengandalkan ingatan. Voucher yang sudah lewat masa berlakunya dibuang otomatis tiap awal bulan.
Kalau daftar user Anda sudah terlanjur ribuan tanpa prefix, pembersihan pertama memang manual. Setelah itu jangan diulangi.
Kode voucher: hindari aksara yang mirip
Voucher dicetak lalu diketik orang di layar HP. Aksara yang paling sering salah baca: 0 dan O, 1 dan l dan I, 5 dan S, 8 dan B.
Buang salah satu dari tiap pasangan waktu membangkitkan kodenya. Panjang enam sampai delapan aksara sudah cukup untuk voucher harian; lebih panjang cuma menambah salah ketik.
Kalau vouchernya untuk dijual bebas, hindari pola berurutan seperti user001, user002 — siapa pun yang beli satu bisa menebak yang lain.
Generator Voucher dan User Hotspot Massal membuat sampai lima ratus voucher sekali jalan dengan kode acak, masa aktif, dan kuota — beserta script untuk menghapusnya kelak, yang justru bagian paling sering dilupakan.
Sebelum menjual, uji satu voucher sampai habis
Bikin satu voucher dengan masa berlaku sangat pendek, lalu pakai sampai benar-benar habis. Perhatikan apa yang dilihat pelanggan saat waktunya habis: halaman apa yang muncul, dan apakah dia mengerti harus beli lagi.
Menemukan itu dari pelanggan yang marah jauh lebih mahal daripada menemukannya sendiri sepuluh menit.
Bacaan lanjutan: Hotspot MikroTik: halaman login tidak muncul dan Modal RT/RW Net: hitungan jujur.