Lompat ke konten utama

Membagi Blok IP dengan VLSM: Urutan yang Menentukan Semuanya

VLSM bukan soal rumus, melainkan soal urutan. Mulai dari segmen terbesar, dan blok yang tersisa selalu muat. Mulai dari terkecil, dan alamat terbuang sebelum setengah jalan.

Semua segmen dikasih /24 karena itu yang paling gampang diingat. Titik point-to-point antar router juga /24 — padahal cuma butuh dua alamat.

Dua ratus lima puluh empat alamat dipakai dua. Kalikan sepuluh titik, dan satu blok /22 habis buat sesuatu yang sebenarnya cukup pakai empat puluh alamat.

VLSM mecahin ini. Tapi ada satu aturan yang kalau dilanggar, hasilnya berantakan walau hitungannya bener semua.

Aturannya: mulai dari yang paling besar

Ini inti VLSM, dan satu-satunya hal yang bikin orang gagal.

Blok subnet harus dimulai di kelipatan ukurannya sendiri. Kalau Anda mulai dari segmen kecil, blok-blok kecil itu bakal nempatin posisi yang bikin blok besar nggak punya tempat sejajar lagi — walaupun jumlah alamat sisanya masih cukup.

Contoh nyata, satu blok 192.168.0.0/22 (1.024 alamat) buat RT/RW Net:

SegmenButuhUkuran yang diambilBlok
Pelanggan400/23 (510 alamat)192.168.0.0/23
Hotspot100/25 (126 alamat)192.168.2.0/25
Staf kantor20/27 (30 alamat)192.168.2.128/27
Perangkat jaringan10/28 (14 alamat)192.168.2.160/28
Point-to-point x42/30 (2 alamat)192.168.2.176/30 dan seterusnya

Perhatikan urutannya turun terus. Tiap blok dimulai persis sesudah blok sebelumnya berakhir, dan tiap-tiapnya sejajar dengan ukurannya sendiri.

Kalau /30 buat point-to-point dipasang duluan di 192.168.0.0/30, blok /23 buat pelanggan nggak bisa lagi ditaruh di 192.168.0.0 — dan tempat sejajar berikutnya buat /23 ada di 192.168.2.0, yang artinya seluruh ruang di antaranya jadi bolong.

Hitung kebutuhan, lalu bulatkan ke atas

Tiap subnet ngabisin dua alamat yang nggak bisa dipakai host: alamat jaringan dan broadcast.

Butuh 100 host berarti butuh 102 alamat, dan ukuran terkecil yang muat adalah /25 (128 alamat, 126 terpakai). /26 cuma nyediain 62 — nggak cukup.

Buat jalur point-to-point antar router, /30 ngasih tepat dua alamat host. Ada juga /31 yang dipakai buat jalur point-to-point di perangkat yang mendukungnya, dan itu ngirit satu blok tiap jalur.

Sisakan ruang tumbuh, tapi jangan di tengah

Godaan terbesar sesudah tabelnya jadi: ngasih jarak kosong antar blok "buat jaga-jaga".

Jangan. Ruang tumbuh disediakan dengan ngambil ukuran satu tingkat lebih besar buat segmen yang emang bakal tumbuh, bukan dengan nyisain lubang di antara blok. Lubang di tengah bikin blok besar berikutnya nggak punya tempat sejajar, dan itu persis masalah yang VLSM datang buat nyelesaiin.

Segmen pelanggan hampir selalu yang tumbuh. Segmen point-to-point nggak pernah.

Kesalahan yang paling mahal: tumpang tindih

Dua subnet yang saling tumpang tindih nggak nimbulin error apa pun waktu dikonfigurasi. Router nerima keduanya. Yang muncul belakangan: sebagian pelanggan nggak bisa dijangkau, dan gejalanya berpindah-pindah tergantung urutan rute.

Cara ngecek cepat: alamat terakhir tiap blok harus lebih kecil dari alamat pertama blok sesudahnya. Kalau perlu dihitung tangan, berarti tabelnya udah terlalu rumit buat dipercaya.

Kalkulator VLSM ngerjain pembagiannya dari daftar kebutuhan Anda, ngurutin sendiri dari yang terbesar, dan nolak susunan yang tumpang tindih.

Tulis tabelnya, simpan di tempat yang bisa dicari

Rencana VLSM yang cuma ada di kepala orang yang bikin bakal jadi masalah orang berikutnya. Simpan tabelnya — segmen, blok, gateway, dan VLAN-nya — di tempat yang bisa dibuka teknisi lain jam dua pagi.

Bacaan lanjutan: Subnetting: kenapa /24 bukan selalu jawabannya buat sisi teorinya, Menggabungkan banyak subnet jadi satu rute buat arah sebaliknya, dan Merencanakan VLAN kantor buat memetakan segmen ke VLAN.

Semua artikel